Sangkal Tidak Libatkan Warga Sekitar, Ketua P2SP Tegaskan Upayakan “Tim BBF-DJ” Pekerja Pada Pembangunan Sekolah, Terkesan Kepentingan Politik.
Foto, Kepala Sekolah TK. Pembina, Sumarni, SPd dan Ketua P2SP, Muhtar, HM. Kasim serta papan proyek pembangunan TK. pembina Kabupaten Dompu.
Dompu, NTB, ChanelNtbNews.com – Menanggapi sorotan masyarakat terkait minimnya keterlibatan masyarakat setempat pada pekerjaan program revilitasi pembangunan TK Pembina Kabupaten Dompu senilai Rp. 990.209.000 yang bersumber dari APBN tahun 2026, seperti pada pemberitaan sebelumnya melalui media ChanelNtbNews.com, Kamis, 23/07/26, kemarin.
Direspon oleh Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), Muhtar, HM. Kasim menyangkal bahwa tidak semua orang di luar kandai dua pekerjanya
“Di Kandai dua timur, kandai dua barat, Bali bunga, polo dan ginte itu semua ada perwakilan pekerja, saya bagi2 pekerja itu” jelas Ketua P2SP di ruang Kepala Sekolah TK. Pembina, Jum’at, 24/07/26
Kecuali, Kata Muhtar Warga sekitar yang berhalangan atau ada kegiatan lainnya,” Dan yang tidak berhalangan saya masukan semua, bahkan 10 sampai 15 orang dimasukkan pekerjanya,” cetusnya terkesan menyakinkan.
Lanjut Muhtar HM. Kasim menjelaskan khususnya untuk tenaga atap itu tidak bisa di kerjakan oleh tenaga biasa atau buruh, karena itu dibutuhkan tenaga yang ahli.
“Kita cari orang-orang yang ada di kandai ini yang ahli dengan atap, Karena tidak ada orang disini, akhirnya kita cari pekerja dari luar, sehingga ada orang Nowa yang bekerja ini,” terangnya.
Muhtar juga menegaskan bahwa dirinya selaku ketua panitia berniat akan berupaya menghubungi di masing-masing ” Tim BBF-DJ” yang ada di kandai dua sebagai pekerja.” Siapa Tim di kandai dua barat, kandai dua timur, dan dilingkungan lainnya yang mau bekerja,” bebernya penuh percaya diri.
Diwaktu yang sama, Kepala Sekolah TK. Pembina, Sumarni, SPd, mengatakan pada prinsipnya kami ingin melibatkan masyarakat sekitar, walaupun itu tidak diwajibkan
“Tetapi karena ada himbauan diutamakan warga sekitar, tapi kalau tidak ada, kami harus ambil diluar,” terang Kepsek.
Untuk itu, Kepsek berharap kepada masyarakat sekitar, ketika ada persoalan seperti ini, itu harus di koordinasikan dengan kami pihak sekolah.
“Jangan langsung main lapor-lapor, mari koordinasi dulu sama kami, pintu ruang terbuka lebar, siapapun yang mau komunikasi, selama komunikasinya itu positif untuk kebaikan TK. Pembina,” harap ibu kepsek dengan nada kesal.
Akan tetapi penyampaian tersebut, terkesan pembenaran diri yang melibatkan 10 sampai 15 orang warga sekitar sebagai pekerja, namun bertolak belakang dengan fakta yang terlihat di lapangan, karena keterlibatan warga sekitar itu diduga tidak seperti yang disampaikan atau minim.
Bahkan dalam pelaksanaan pekerjaan proyek sekolah tersebut terkesan para pekerja di monopoli oleh Tim2 BBF-DJ yang ada di berbagai wilayah kandai dua.
Sehingga orientasi pembangunan sekolah tersebut terkesan berorientasi pada kepentingan politik bukan memperioritas kualitas maupun mutu pembangunan tersebut yang bertolak belakang dengan tujuan utama proyek pembangunan sekolah sebagai upaya memperluas akses pendidikan berkualitas, menciptakan ruang kelas yang aman dan kondusif, serta mendukung pemerataan sarana belajar bagi masyarakat.
Penulis IW








