Dirgahayu Republik Indonesia Ke 78

 

ChanelNtbNews, Dompu NTB – Kabid  Sarana Prasarana pertanian Distanbun Kabupaten Dompu, Edy Chaedir, SP beserta Staff..Mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia Ke 78. Sabtu 12/08/23.

Merdeka untuk untuk Petani 

 

Pewarta : IW




Kabupaten Dompu Salah Satu Daerah Penyanggah Pangan Nasional.

 

 

ChanelNtbNews, Kabupaten Dompu merupakann lumbung pangan dan menjadi salah satu daerah penyanggah pangan nasional. walaupun berada di wilayah yang sedikit gersang.

 

Tetapi Kabupaten Dompu memiliki segudang mata air yang digunakan sebagai saluran irigasi tehnis pertanian dengan optimal. sehingga setiap musim panen, mengalami surplus pangan.

 

Kepala Dinas Pertanian dan perkebunan Kabupaten Dompu Muhammad Syahroni, SP,.MM menjelaskan bahwa luas areal tanam padi di Kabupaten Dompu, mencapai 29.570 hektar, hingga Juli 2023,

 

Karena kab Dompu berada di lahan irigasi tehnis dan tidak pernah berubah komoditinya selain padi. dengan luas tanam tersebut”, di prediksi akan mampu memproduksi gabah mencapai 147 ribu ton dan musim panen ini, kita surplus beras hingga mencapai 45 ribu ton,” jelas Kadis.

 

Namun ancaman el nino yang akan terjadi di musim kemarau ini, diyakini tidak akan berdampak pada ketersediaan pangan Kabupaten Dompu.

 

Nantinya Kabupaten Dompu, akan kembali mengulang sebagai daerah penyanggah pangan nasional yang setiap tahun di sandangnya.“Minimal mampu memenuhi kebutuhan pangan kabupaten sekitar Dompu,” ujarnya. Rabu (11/8/2023). (Dikutip dari situs Distanbun).

 

Pen : IW




Sekda Dompu Menerima Kunjungan Sekaligus Silaturahmi PT. Jasa Raharja NTB

foto Setda Kabupaten Dompu, Gatot Gunawan Perantauan Putra, SKM., M.MKes. saat menerima kunjungan Kepala Cabang PT. Jasa Raharja NTB, Dicky Syiwa Permadi bersama rombongan di Kantor Pemda Dompu.

 

 

ChanelNtbNews, Dompu, NTB – Perseroan Terbatas (PT) Jasa Raharja Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersilaturahim dengan Bupati Dompu, H. Kader Jaelani diwakili Sekertaris Daerah (Sekda) Gatot Gunawan Perantauan Putra, SKM., M.MKes.

 

Kehadiran Kepala Cabang PT. Jasa Raharja NTB, Dicky Syiwa Permadi bersama rombongan disambut hangat penuh keakraban oleh Sekda, Gatot Gunawan Perantauan Putra, SKM., M.MKes di ruang kerjanya. Kamis (10/08/23)

 

Menurut Sekda Gatot Gunawan kunjungan silaturahim tersebut sebagai upaya meningkatkan komunikasi dan koordinasi terkait pelayanan pemberian pelayanan santunan bagi korban kecelakaan lalulintas.

 

Kata Sekda Gatot Gunawan dengan koordinasi dan komunikasi yang terjalin baik antara keduanya akan saling memudahkan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing.

 

Hal yang disampaikan saat kunjungan silaturahim berlangsung PT. Jasa Raharja menjelaskan secara garis besar terkait program dan kegiatan kerjanya.

 

 

“Ketika terjadi kecelakaan saat mengendarai kendaraan roda dua maupun roda empat, kepada korban yang telah memenuhi syarat dan ketentuan berdasarkan peraturan yang berlaku pihak jasa raharja akan memberikan santunan”, beber Sekda.

 

Diakhir Sekda menjelaskan berdasarkan ketentuan peraturan yang berlaku ada persyaratan yang harus dipatuhi pengguna jalan sehingga ketika terjadi kecelakaan akan mendapatkan santunan dari pihak jasa raharja.

 

Untuk itu Sekda Gatot Gunawan menghimbau setiap pengguna jalan agar mendapatkan santunan ketika terjadi kecelakaan saat mengendarai kendaraan baik roda dua, roda empat dan lainnya.

 

“Hendaknya mentaati ketentuan seperti memiliki sim, membayar pajak kendaraan, memakai helm, menggunakan tali pengaman dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku,”tuturnya Sekda Dompu.

 

Penulis : IW




Terapkan Metode Pertanian Berkelanjutan, Dalam Upaya Tingkatkan Produksi Pertanian.

foto Kabid Sarana dan Prasarana Pertanian, Edy Chaidir, SP

 

ChanelNtbNews, Dompu, NTB – Dinas Pertanian Kab Dompu Dalam Upaya meningkatkan Produksi hasil pertanian, akan mencoba menerapkan metode pertanian yang berkelanjutan,

 

Dengan Teknologi Pertanian yang ramah lingkungan, dengan teknik irigasi yang mengurangi terbentunya gas metan, pembukaan lahan dengan tidak membakar, menggunakan pupuk kompos organic, bio-pestisida, pengendalian hama biologis, sekolah lapang iklim, serta kalender tanam.

 

Kepala Dinas Pertanian Kab Dompu, melalui Kabid Sarana dan Prasarana Pertanian, Edy Chaidir, SP. menjelaskan tujuan jangka menengah, dengan Mendorong peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura secara berkelanjutan.

 

” Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta ketahanannya terhadap perubahan iklim. peningkatkan mutu dan daya saing produk. meningkatkan sarana pasca panen dan pemasaran.” kata Kabid saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Kamis 10/8/23

 

Serta meningkatnya kapasitas petani untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim dan mendukung upaya-upaya pengurangan emisi di Sektor Pertanian.

 

Dengan sasarannya penjabaran dari tujuan, yaitu hasil yang akan dicapai secara nyata dari masing-masing tujuan dalam rumusan yang lebih spesifik dan terukur dalam suatu indikator beserta targetnya.

 

” Oleh karena itu, sasaran harus lebih fokus, bersifat spesifik, terinci dan dapat terukur.” Pungkasnya

 

Jadi adapun sasaran yang ingin dicapai yaitu dengam Meningkatkan produksi padi dan ubi kayu pada lahan fungsioanal dan lahan kritis

 

” Meningkatkan sarana dan prasarana pertanian Pengembangan sentra padi meningkatkan produksi durian/lai, jeruk, pisang dan pepaya terutama di lahan kritis.” Papar kabid sosok pekerja keras.

 

Kemudian nantinya akan berkembangnya kawasan usaha agribisnis terpadu (KUAT) meningkatnya jumlah kebun yang di sertifikasi.

 

Sehingga mampu meningkatkan jumlah sub terminal agribisnis (STA) dan Peningkatan kapasitas petani dalam penerapan adaptif serta praktek pertanian ramah lingkungan yang akan mengurangi emisi dari sector pertanian.

 

” Insyaallah nanti kita coba terapkan metode pertanian berkelanjutan ini, mudah-mudahan cocok dan bisa diterima oleh petani khususnya petani dompu,” ujar kabid Karismatik diakhir penyampaiannya.

 

Pewarta : IW




Kemerdekaan Bagi Petani??

Foto kepala UPTD Manggelewa Kab Dompu, Muhammad Fadli, SP 

 

 

ChanelNtbNews Dompu NTB – Sebelum negeri bernama Indonesia berdiri, eksistensi petani sudah jauh diakui. Dalam naskah-naskah sejarah diuraikan, petani dan warga perdesaan merupakan penopang utama keberhasilan merebut kemerdekaan.

 

“Tidak hanya menyediakan tempat persembunyian, peran petani dan warga perdesaan paling penting ialah menjamin logistik para pejuang,” dikutip Media Indonesia, 8/8/23.

 

Mustahil pejuang menang berjuang dengan perut kosong. Pertanyaannya, sudahkah petani kita merdeka?

 

Jumlah petani saat ini mencapai 54% dari jumlah rakyat Indonesia. Logikanya, jika rakyat merasakan kemerdekaan, otomatis kemerdekaan juga dirasakan petani.

 

Jika tidak, siapa sebenarnya yang memetik kemerdekaan selama 78 tahun ini? bagaimanakah kehidupan petani setelah 78 tahun merdeka: apakah semakin sejahtera, tetap, atau bahkan kian menderita?

 

Benarkah petani semakin tidak berdaya? Apakah indikasinya?Bagaimana membuat mereka merdeka dalam arti sesungguhnya? Lalu, apakah yang harus dilakukan?

 

Kemerdekaan petani yang tecermin pada kehidupan yang kian sejahtera atau justru sengsara setidaknya bisa diukur dari tiga hal: tingkat pendidikan, aset ekonomi, dan tingkat kemandirian. menurut Sensus Pertanian (SP) 2013, kapasitas SDM pertanian amat rendah.

 

 

Jumlah rumah tangga petani mencapai 26,14 juta rumah tangga, menurun 5,04 juta rumah tangga dari 2003.Sekitar 72% dari mereka yang bekerja di sektor pertanian hanya berpendidikan atau tidak tamat SD, 26% lulus SMP dan SMA, dan hanya 1% lulus perguruan tinggi.

 

Kapasitas pendidikan yang rendah membuat adopsi inovasi-teknologi jadi lambat.

 

Di berbagai daerah biaya pendidikan SMP, bahkan hingga SMA, dibebaskan dan 20% APBN dialokasikan khusus untuk sektor pendidikan, Namun, ternyata itu belum mampu memerdekakan petani dari kebodohan.

 

Amanat konstitusi seperti tertuang dalam roh pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan RI ikut mencerdaskan bangsa dan Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran ternyata hanya indah di teks.

 

Nyatanya pendidikan petani tidak tersentuh. Lalu apa makna dan manfaat kemerdekaan bagi petani?Penguasaan modal (lahan dan pendanaan) petani amat terbatas.

 

Sebanyak 14,25 juta rumah tangga petani (55,33%) guram dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 ha.Keterbatasan modal membuat pertanian tidak lagi jadi gantungan hidup dan keluar dari jerat kemiskinan.

 

Menurut Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian 2013 (SPP 2013) BPS, rata-rata pendapatan rumah tangga tani dari usaha di sektor pertanian hanya Rp12,4 juta per tahun atau Rp1 juta per bulan, amat jauh dari upah layak buruh pabrik.

 

Pendapatan itu hanya mampu menopang sepertiga kebutuhan. Sisanya disumbang dari kegiatan di luar pertanian, seperti mengojek, berdagang, dan menjadi pekerja kasar.

 

Fakta ini menunjukkan tak ada lagi ‘masyarakat petani’, yakni mereka yang bekerja di sektor pertanian dan sebagian besar kebutuhan hidupnya dicukupi dari kegiatan itu.

 

Maka dimomentum Kemerdekaan, Kepala UPTD, Muhammad Fadli, SP beserta Keluarga Besar UPTD Manggelewa Kab Dompu,, Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia Ke 78.

 

Merdeka..Merdeka..Petani Bangkit, Petani Merdeka

 

Pen: IW




Sekilas Pekerjaan Umum Di Jaman Indonesia Merdeka.

 

 

ChanelNtbNews, Dompu NTB – Setelah Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan pada tanggal 17-8-1945, maka semenjak itu Pemuda-pemuda Indonesia mulai berangsur-angsur merebut kekuasaan Pemerintahan dari tangan Jepang baik di pusat pemerintahan (Jakarta/Bandung) maupun Pemerintahan Daerah-daerah.

 

Sesudah Pemerintahan Indonesia membentuk Kabinet yang pertama, maka pada Menteri mulai menyusun organisasi serta sifatnya.

 

 

Pekerjaan Umum pada waktu itu (1945) berpusat di Bandung, dengan mengambil tempat bekas gedung V.&W. (dikenal dengan nama “Gedung Sate”).

 

Ketika Belanda ingin mengembalikan kekuasaaan pemerintahan di Hindia Belanda sebelum perang, datang mengikuti Tentara Sekutu masuk ke Indonesia.

 

Akibat dari keinginan Pemerintahan Belanda ini, terjadilah pertentangan fisik dengan Pemuda Indonesia yang ingin mempertahankan tanah air berikut gedung-gedung yang telah didudukinya,

 

Antara lain “Gedung Sate” yang telah menjadi Gedung Departemen Pekerjaan Umum pada waktu itu (peristiwa bersejarah itu dikenal dengan peristiwa “3 Desember 1945”).

 

Pada waktu revolusi fisik dari tahun 1945 s/d 1949, Pemerintah Pusat RI di Jakarta terpaksa mengungsi ke Purworejo untuk selanjutnya ke Yogyakarta, begitu juga Kementerian PU.

 

Sesudah Pemerintahan Belanda tahun 1949 mengakui kemerdekaan Republik Indonesia maka pusat pemerintahan RI di Yogyakarta, berpindah lagi ke Jakarta.

 

Sejak tahun 1945 itu, Pekerjaan Umum (PU) telah sering mengalami perobahan pimpinan dan organisasi,sesuai situasi politik pada waktu itu.

 

 

Lewat Momentum Bersejarah ini, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Dompu, Aris Ansari ST MT, Beserta Keluarga Besar Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia Ke 78.

 

Pen : IW